Setelah
runtuhnya kekhalifa’an Turki (1924), dunia Islam hingga sekarang ramai
membicarakan tentang konsep Negara Islam. Selama masa penjajahan, entah kenapa,
muslimin tidak sempat untuk membicarakan tentang apa yang mereka derita dan
yang harus mereka lakukan untuk sebuah konsep tersebut dan akhirnya secara
sengaja kaum muslimin dipisahkan dari ajaran-ajaran agama dan bahkan hingga
sekarang mereka seakan-akan terhinggapi apa yang disebut westomania,
sejenis penyakit kejiwaan yang menganggap apa yang dating dari Barat adalah
segalanya.
Kekalahan politik dan meliter yang diderita kaum muslimin sangat
berpengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan kaum muslimin dalam jangka yang
cukup panjang salah satu diantaranya kaum muslimin mengalami semacam “westoxication”
(keracunan terhadap barat) yang berakibat kemandulan dalam berbagai aspek
kehidupan dan pada gilirannya kaum muslimin menjadi konsumen ideology-ideologi
Barat.
Selang
beberapa tahun setelah keruntuhan kekhalifaan turki, satu usaha besar dalam
rangka untuk membebaskan dari kungkungan politik dan meliter barat telah
dilakukan yang ditandai dengan meledaknya revolusi Iran (1979) yang dimotori
oleh Ayatullah Khomeini. Revolusi Iran adalah merupakan usaha yang sangat
spektakuler dari kaum muslimin (terlepas dari keterkaitan dengan madhzab
tertentu) untuk membebaskan diri hegemoni dan dominasi Barat sebagai eksponen
kekuatan yang palin berpengaruh.
Sebenarnya
isu penegakan syair Islam lewat Negara bukan hanya saja isu yang hangat pasca
Revolusi Iran. Akan tetapi para cendikiawan muslim sebelum Ayatullah Khomeini
baik dari dunia Sunni maupun Syi’I telah membicarakan hal ini seperti Muhammad
Abduh, Muhammad Al-Ghozali, Syariati dan Bani Sadr. Mereka ingin menggali
konsep Negara dan pemerintahan dari khazanah Islam. Akan tetapi, hal ini tidak
terlepas dari beberapa kontroversi seputar masalah ini.
Isu
Negara Islam dan penegakan syariat di sebagian dunia Islam termasuk di
Indonesia merupakan “momok” dan “hantu” yang sangat ditakuti. Negara Islam
diidentikan dengan potong tangan bagi pencuri, rajam hingga mati bagi yang
berbuat serong dan selingkuh atau merebut milik orang (pinjam istilah dunia
sinetron Indonesia). Dalam isu Negara Islam, wanita adalah merupakan second
class citizen dan mereka harus memakai cadar.
Ini adalah merupakan bentuk
keracunan dunia Islam dari pengaruh dan hegemoni barat. Pokok permasalahan yang
dihadapi oleh umat Isalam sekarang ini adalah ketidakmampuan menghadapi segala
pemikiran Barat yang tidak jujur terhadap isu seputar Negara Isalam. Hanya
factor kejujuranlah yang mengatakan bahwa hokum-hukum yang bersandarkan kepada
wahyu merupakan titik terakhir penyelesaian permasalahan peradaban yang
dihadapi manusia.
Beberapa
contoh dari hal itu adalah misalnya hukuman potong tangan bagi pencuri. Hokum
dengan sungguh sangat jelas mengatakan bahwa hukuman ini tidak dijatuhkan
seseorang yang melakukan pencurian dengan alasan untuk menyambung hidup atau alas
an keluarga yang nyaris kelaparan karena kekurangan, dan bahkan Islam tidak
hanya berhenti di persoalan hukuman terhadap pencurian hanya sekedar untuk
makan akan tetapi Islam juga mengataskan kemiskinan. Islam tidak hanya sekedar
memperlakukan potong tangan kepada setiap pencuri, tetapi harus memenuhi
criteria tertentu.
Juga
mengenai kasus hukuman rajam bagi pelaku hubungan intim di luar institusi
pernikahan. Islam telah memberikan peringatan tentang hal ini jauh sebelum
DUHAM (Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia) dicetuskan. Peringatan ini adalah
dalam rangka menjaga keutuhan rumah tangga dan dalam rangka menjaga kesehatan
fisik manusia dan juga mengontrol
penyalahgunaan fungsi seks dalam kehidupan manusia.
Mengenai
kasua kerudung kepala yang diwajibkan atas wanita muslimah adalah dalam rangka menjelmakan
kehidupan wanita yang berharkat dan bermartabat. Wanita dengan kerudung kepala,
dimaksudkan agar wanita tidak hanya dieksploitasi untuk kebutuhan komersil
ataupun bahkan menjual sebagian tubuk tertentu kepada orang yang tidak
bertanggung jawab.
Dikisahkan
bahwa Nabi Musa ‘alaihissalam pernah berdoa, “Ya Tuhanku! Tunjukkanlah
salah seorang wali-Mu kepadaku.” Tiba-tiba ada suara berseru, “Wahai Musa!
Naiklah ke gunung itu, dan turunlah kelembah. Niscaya kau akan melihat apa yang
kau inginkan.” Kemudian ia melakukannya, dan melihat padang rumput yang luas
serta sebuah rumah. Lalu ia masuk kedalam rumah tersebut dan tiba-tiba di sana
ada manusia yang menderita penyakit kusta. Dia seperti potongan dagiang yang
terbuang.
Nabi
Musa alaihissalam berkata, “Assalamu’alaika ya waliyallah.”
Ia
menjawab “wa ‘alaikassalam ya kalimullah.”
“Dari
mana kau bisa mengenaliku?“ Tanya Nabi Musa alaihissalam
“Sesungguhnya
aku adalah seorang laki-laki yang tidak pernah dikunjungi oleh siapapun dalam
kondisi seperti ini. Selama beberapa malam aku minta kepada Allah SWT agar
dipertemukan denganmu, dan Dia mengabulkan permintaanku.”
Jawabnya
“Lalu
siapakah yang melayanimu serta dari manakah makanan dan minuman?” Tanyanya
lagi.
Ia
menjawab, “Aku mempunyai anak laki-laki yang setiap hari pergi ke lembah ini
dan memetikkan untukku. Maka aku memakannya sambil berbuka puasa.”
Kemudian
ia diberi tahu dan langsung menuju ke sana. Lalu ia bertemu dengan seorang
pemuda yang tampan bagaikan bulan. Maka ia sangat kagum terhadapnya dan
berkata, “Allah SWT memberkatimu sebagai seorang yang paling tampan.
“pada
saat seperti itu, tiba-tiba datang seekor binatang buas menerkam pemuda
tersebut. Nabi Musa alaihissalam sangat marah dan berkata, “wahai
Tuhanku! Salah seorang wali-Mu terlempar dalam kondisi seperti ini, dan tidak
ada lagi orang yang melayaninya.” Lalu Allah SWT mewahyukan kepada orang tuanya
dan lihatlah kebesaran serta kerelaan, Maka ia pun kembali kesana dan
memberitahu peristiwa tentang anaknya.
Oarang tua itu tersenyum gembira dan
bahagia, lalu memandang kelangit dan berkata, “Wahai Tuhanku! Kau telah memberi
rizki dengan kehadiran seorang anak. Dan aku menduga jika anakku itu akan hidup
setelahku. Oleh karena Engkau memanjangkan usiaku darinya, maka cabutlah
nyawaku dalam sujud.”
Lalu ia bersujud dan Nabi Musa alaihissalam menggerak-gerakkan
dia yang ternyata telah meninggal. Kemudian ia berkata, “Wahai tuhanku! Wali Mu
terlempar ditempat ini, dan anaknya terlempar di lembah.” Lalu Jibril turun
untuk memandikan dan menyemayamkan mereka berdua kemudian Nabi Musa alaihissalam
pun pulang.
Bencana
yang datang tiada henti, bukan hanya di Indonesia saja, tetapi seluruh dunia.
Meluluhlantakkan infrastruktur yang sudah di bangun dengan susah payah, hancur
dalam tempo sekejab, bangunan, jembatan segala kesenangan dan keindahan berubah
menjadi petaka. Mendatangkan kesengsaraan penghuninya, kelaparan, kehausan
berbagai penyakit timbul berjangkit dan menular bila tidak segera dicari
solusi.
1. Ramat di Balik Musibah
Merupakan
suatu peringatan keras dari Allah s.w.t, agar manusia kembali berjalan sesuai
dengan rambu-rambuNya. Kita ini makhluk Allah sudah sepantasnya bersikap
sebagai mana yang Dia kehendaki. Dalam keimanan, dilangit – berkah dan musibah
itu bertemu dan berkelahi. Kalu dimuka bumi ini banyak hamba Allah yang
beristigfar, berdzikir, berdoa, dan mendekatkan diri kepada Allah, maka yang
menang berkah. Turunlah keberkatan itu. Allah berfirman dalam hadist Qudsi:
“Saya sesuai dengan prasangka hamba-Ku” namun sebaliknya, kalu banyak yang
maksiat, kufur nikmat, munafik, fasik, zalim, murtad, musyrik, kafir maka
turunlah musiba dan laknat. Jadi
ketaatan kepada Allah itu magnet keberkatan. Kemaksiatan dan kedzaliman magnet
bala musibah. Jadi, tinggal pilih.
Tidak
serta merta turun keberkatan dari langit, kecuali karena gerakan makhluk dari
muka bumi ini. Allah berfirman dalam surat Al-Anfal ayat 33: “Kami tidak
akan murka dan menadzab, selama mereka beristiqfar”.
Kata
‘mereka’ itu berarti tidak sendiri saja, semua bergerak, semua memohon ampun
dan bertaubat. Bala musibah akan berhenti jika kita bertobat kepada Allah,
mohon ampun dan bersungguh-sungguh bertaqwa, kita merdekakan negri ini dari
korupsi, kemunafikan, kemaksiatan dan kezaliman. Harus ada gerakan massif dan
kongkrit.
Mahkamah
kesadaran harus terus dibangn, dibangkitkan, karena kalu tidak, Allah yang akan
menyadarkannya. Musibah beruntun yang terjadi merupakan bentuk cara Allah
menyadarkan kita. Mau sadar tidak, kalu sudah sadar mau insyaf nggak.
Jangan lupa ada orang sadar tapi tidak mau insyaf. Kemalangan yang terjadi
karena dosa dan kesalahan kita kepada Allah.
Musibah
yang terjadi di Dunia ini bisa berarti ujian, peringata, adzab. Nilai berbeda
tergantung dari sikap manusianya. Bagi orang yang yang taat kepada Allah,
musibah berarti ujian untuk mengangkat derajad dan maqam-nya menjadi
lebih tinggi. Tapi bagi orang muslim yang banyak maksiat, ini berarti
peringatan. Mudah-mudahan musibah yang terjadi itu memaafkan kesalahannya. Maka
wafat boleh jadi ampunan Allah. Insya Allah mereka menjadi syuhada yang mendapat
ampunan. Adzab tidak akan terjadi pada orang-orang mukmin dan muslim. Hanya
terjadi pada pada orang-orang kafir dan musyrik. Jadi, kalau itu musibah dan
membawa kematian, bagi orang kafir dan musyrik itu azdab.
Betapa
lemah dan tidak berdayanya manusia ketika diterpa bencana, begitu kok
sombongnya. Manusia kalau ngomong seperti tak ada Tuhan. Kayaknya kita
bertingkah pongah, seakan-akan Allah tidak melihat kita. Kalau dengan bala ini
tidak juga sadar, maka akan terjadi bala yang lebih besar. Mungkin ini baru
step ‘c’, kalau belum sadar akan terjadi step ‘b’, baru kalu tidak sadar juga
step ‘a’. Puncaknya, kalau masih belum sadar juga, maka akan terjadi kiamat.
Musibah
yang datang pada hamba-Nya ada;ah wujud kasih sayang Tuhan, sebagai mana sabda
nabi Muhammad saw: “Jika Allah mencintai hamba-Nya maka Dia akan mengujinya.”
Nah, ujian itu macam ragam corak dan bentuknya, terserah Allah. Sebagai orang
beriman tidak sepatutnya berputus asa bahkan harus mengadakan instropeksi dan
evaluasi atas segala bencana yang menimpa kemudian taubat, tazkiyatun nafs
dan tidak hendak mengulangi kesalahan itu, hanya orang bodoh yang ingin jatuh
ke lobang dua kali. Bahakan kemurahan Allah dengan musibah tersebut Dia ampuni
dosa-dosa dan kesalahan orang yang melakukannya. Betapa kekuasaan, keagungan,
kemuliaan, kedahsyatan dan keindahan Allah. Allah itu diqjaya, Allah hendak
hendak memperlihatkan bahwa kita itu tidak ada apa-apanya.
2. Apa
Hikmah di Balik Musibah?
Dibalik
musibah itu rahmat. Ini bedanya mata iman, selalu optimis. Kalu gunung meletus
pasti ada kesuburan setelah itu. Kini, semua dunia perhatiannya tertuju ke
negri terluntah. Terutama negri ini, jadi semakin sayang dan cinta kepada masyarakat yang dilanda musibah tersebut. Semua
semangat dikarenakan kebersamaan itu ada. Masyarakat yang diuji pun semakin sadar, ternyata
mereka tidak sendiri dan di sayangi oleh penduduk negeri ini bahkan dunia.
Perhatikan firman Allah surat al-A’raf ayat 96: “Seandainya penduduk negri
beriman dan bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah turunkan keberkatan dari
langit dan bumi, tapi kalau mereka kufur pada nikmat Allah untuk maksiat, maka
Allah turunkan adzab karena kekufuran dan kedzaliman mereka”.
Awal
yang baik adalah menjaga khusnudzan, berbaik sangka. Ketika musibah di persepsi
sebagai bencana, maka tidak akan jauh-jauh hasilnya. Orang akan merasakan
kesengsaraan justru karena ia mempersulit diri dengan asumsinya tentang musibah
tersebut. Segala sesuatunya dikeluhkan, disesali, diratapi, sehingga membuatnya
terus terpuruk. Ketika musibah di persepsi sebagai adzab, ada musibah yang
mungkin terjadi. Ada kekuatan moral untuk bangkit memperbaiki diri. Sama ketika
orang mempresepsi musibah sebagai ujian, yang melahirkan kesabaran untuk
menjalaninya dan mengupayakan perbaikan dalam hidupnya.
Tak
ada kebaikan selain apa yang kemudian dilakukan untuk meneruskan hidup dan
mengambil pelajaran dari sisi peristiwa yang telah dilaluinya. Pada setiap
kejadian, memang selalu terkadang hikmah. Sayangnya, sulit sekali menemukan orang
yang sanggup menangkap hikmah pada setiap kejadian, apalagi mendapat pelajaran
darinya. Kebanyakan orang takabur. Mereka yang biasa menerima dan menangkap
hikmah, hanyalah orang mengakui keterbatasannya sebagai makhluk.
3. Satu
Kesulitan Dua Kemudahan
Musibah
adalah bagian dari kesulitan hidup. Ia juga bagian dari nuansa kehidupan yang
tidak hanya kaya akan kesulitan , tapi juga kebahagiaan. Kadang-kadang orang
tidak bersyukur dan terlupa dengan kebahagiaan yang di raihnya sebelum datang
kesulitan. Mereka terus menyalahkan orang lain. Mereka lupa, bahwa pada saat
kebahagiaan datang kepada mereka tak satu hal pun dilakukan untuk
mensyukurinya.
Musibah
adalah ‘buah’ dari kehendak Sang Maha Berkehendak. Maka pasti Dia juga tahu
jalan keluarnya. Maka, tak ada tempat kembali yang utama kecuali kepada Allah. Di
kembalikan segala urusan dengan ikhtiar yang maksimal. Mudah-mudahan musibah
yang melanda negri ini sanggup mendatangkan berjuta hikmah kepada kita. Dan
mengembalikan kita pada kesadaran bahwa kehendak Allah di atas segalanya.
Nikmatilah kesulitan hidup seperti kita menikmati kebahagian hidup. Karana
setelah kesulitan akan datang kemudahan dan kebahagiaan. Lalu, waspadalah dan
berbekallah karena setelah kebahagian itu akan berganti pula dengan kesulitan
atau problematika baru. Karena demikianlah Sunnatullah. Hasbunallah a ni’
mal wakiil, dan Allah sebaik-baik Pelindung (QS Ali Imran: 173).
Kisah-kisah cerita teladan Islami ini terkumpul dari beberapa kisah yang menarik serta terdapat hikmah-himah yang bisa di petik dari Kumpulan Kisah cerita teladan Islami ini, dengan membaca dan melihat kejadian-kejadian/kisah-kisah yang sudah terjadi dahulu, bisa membantu atau menolong diri sendiri, agar bisa menjadi yang terbaik yang diharapkan oleh Islam serta bisa menteladani dari kisah-kisah islami, adapun kumpulan kisah-kisah cerita teladan islami di bawah ini sebagai berikut:
Siapa yang paling jelek sedunia
Karena mimpi melihat neraka di depan mata
Kisah raja sehari
Komitmen Nikah dalam perspektif Islam
1). SIAPA YANG PALING JELEK SEDUNIA
Kisah seorang santri yg menggali ilmu
pada seorang pak Kyai. Bertahun-tahun telah dia lewati hingga sampai pada suatu
ujian terakhir. dia menghadap pak Kyai untuk mengikuti ujian tersebut. “Hai
Santri, kamu sudah menempuh semua tahapan belajar dan sekarang tinggal satu
ujian lagi, kalau seandainya kamu mampu dan bisa menjawab berarti kamu lulus “,
kata pak Kyai. “Baik pak Kyai, apa ujiannya pak Kyai ?” “Kamu harus bisa cari
atau menemukan seorang atau satu mahkluk yang lebih jelek dari kamu, kamu akan
saya beri waktu dalam tiga hari “. Kemudian santri tersebut meninggalkan pondok
untuk melaksanakan ujian dari pertanyaan pak Kyai tersebut serta mencari
jawaban atas pertanyaan pak Kyai-nya.
Pada hari pertama:
Santri bertemu dengan seorang pemabuk berat yg dapat di katakan hampir tiap
hari mabuk-mabukan. Santri berkata dalam hati, ” Inilah orang yang lebih jelek
dari saya. Saya telah beribadah puluhan tahun sedang ia mabuk-mabukan terus “. Namun
sesampai dia di rumah, timbul pikirannya. “Belum tentu, sekarang orang
mabuk-mabukan tadi, siapa tahu pada akhir hayatnya Allah memberi Petunjuk (hidayah)
dan ia Khusnul Khotimah adapun saya sekarang baik banyak ibadah, tetapi pada
akhir hayat saya di takdirkan Suul Khotimah,bagaimana ? ia belum tentu lebih
jelek dari saya.
Pada hari kedua:
santri jalan keluar rumah dan ketemu
dengan se-ekor anjing yang menjijikan bentuknya, sudah bulunya kusut, kudisan dan
sebagainya. Santri terdiam sambil berpikir, ” Ketemu sekarang yg lebih jelek
dari saya. Anjing ini sudah pasti haram kalu dimakan, sudah kudisan dan jelek
lagi ” . Santri merasa gembira karena telah menemukan jawaban atas pertanyaan
gurunya tersebut. Ketika waktu akan tidur sehabis ‘Isya, dia merenung, “Anjing
itu kalau mati, habis permasalahan dia. Dia tidak dimintai tanggung jawab atas
perbuatannya oleh Alloh, sedangkan saya akan dimintai pertanggung jawaban yg
sangat berat di karenakan saya selalu berbuat banyak dosa, pasti saya masuk
neraka. “Saya tidak lebih baik dari anjing itu.
Pada hari ketiga:
Santri tersebut menghadap pak Kyai. Pak Kyai
bertanya, “Sudah dapat jawabannya wahai muridku ?” “Sudah pak Kyai”, santri
menjawab. ” Ternyata orang yang paling jelek adalah saya guru”. Sang Kyai
tersenyum, “Kamu saya nyatakan lulus”.
Hikmah yang dapat di petik dari kisah
siapa orang yang paling jelek sedunia ini yaitu: Selama kita masih sama-sama
hidup kita tidak boleh sombong/merasa lebih baik dari orang/mahkluk lain. Yang
berhak sombong adalah Alloh SWT. Karena kita tidak tahu bagaimana akhir hidup
kita nanti. Dengan demikian maka kita akan belajar berprasangka baik kepada
orang/mahkluk lain yg sama-sama di ciptaan Allah SWT.
2). KARENA MIMPI MELIHAT NERAKA DI
DEPAN MATA MENURUT ISLAM
Semasa Rasulullah SAW hidup, para sahabat
beliau selalu menceritakan atau mengadukan permasalahan-permasalahan yang
mereka miliki, termasuk permasalahan bermimpi. Suatu malam hari, seorang
sahabat nabi yang masih muda bernama Abdullah bin Umar ra, berangkat ke Masjid
Nabawi. Dia membaca Al-Quran sampai kelelahan. Setelah cukup lama ia membaca
Al-Quran, dia merasakan ngantuk dan mau tidur.
Seperti biasa yang dilakukannya, sebelum
tidur dia menyucikan diri dengan cara berwudhu, baru kemudian merebahkan badan
dan berdoa, “Bismika Allahumma ayha wa bismika amutu: ya Allah, dengan nama-Mu
aku hidup dan dengan nama-Mu aku mati.”
Demikianlah, Baginda Rasul menuntunnya
cara tidur yang baik. Sehingga, dalam tidur pun, malaikat masih mencatatnya
sebagai orang yang tidak lalai. Dengan menyucikan diri, ruh orang yang tidur
akan mendapatkan hikmah dan siraman doa para malaikat.
Sambil pelan-pelan memejamkan mata,
Abdullah bin Umar terus bertasbih menyebut nama Allah hingga akhirnya terlelap.
Di dalam tidurnya yang nyenyak, dia bermimpi.
Dalam mimpinya, dia berjumpa dengan dua
malaikat. Tanpa berkata apa apa, dua malaikat itu memegang kedua tangannya dan
membawanya ke neraka. Dalam mimpinya, neraka itu bagai sumur yang menyalakan
api berkobar kobar. Luar biasa panasnya. Di dalam neraka itu, dia melihat
orang-orang yang telah dikenalnya. Mereka terpanggang dan menanggung siksa yang
tiada tara pedihnya.
Menyaksikan neraka yang mengerikan dan
menakutkan itu, Abdullah bin Umar seketika berdoa, “A’udzubillahi minannaar.
Aku berlindung kepada Allah dari api neraka.”
Setelah itu, Abdullah bertemu dengan
malaikat lain. Malaikat itu berkata, “Kau belum terjaga dari api neraka!”
Pagi harinya, Abdullah bin Umar menangis
mengingat mimpi yang dialaminya. Lalu, dia pergi ke rumah Hafshah binti Umar,
istri Rasulullah SAW. Dia menceritakan perihal mimpinya itu dengan hati yang
cemas.
Setelah itu, Hafsah menemui Baginda Nabi
dan menceritakan mimpi saudara kandungnya itu pada beliau. Seketika itu, beliau
bersabda, “Sebaik-baik lelaki adalah Abdullah bin Umar kalau dia mau melakukan
shalat malam!”
Mendengar sabda Nabi itu, Hafshah
bergembira. Dia langsung menemui adiknya, Abdullah bin Umar dan berkata,
“Nabi mengatakan bahwa kau adalah sebaik-baik
lelaki jika kau mau shalat malam. Dalam mimpimu itu, malaikat yang terakhir kau
temui mengatakan bahwa kau belum terjaga dari api neraka. Itu karena kau tidak
melakukan shalat tahajud. Jika kau ingin terselamatkan dari api neraka,
dirikanlah salat tahajud setiap malam. Jangan kau sia-siakan waktu sepertiga
malam; waktu di mana Allah SWT memanggil-manggil hamba-Nya; waktu ketika Allah
mendengar doa hamba-Nya.”
Sejak itu, Abdullah bin Umar tidak pernah
meninggalkan shalat tahajud sampai akhir hayatnya. Bahkan, kerap kali dia
menghabiskan waktu malamnya untuk shalat dan menangis di hadapan Allah SWT.
Setiap kali mengingat mimpinya itu, dia menangis. Dia berdoa kepada Allah agar
diselamatkan dari api neraka.
Apalagi jika dia juga ingat sabda baginda
Nabi SAW, “Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya pada hari
kiamat adalah seseorang yang diletakkan pada kedua tepak kakinya bara api yang
membuat otaknya mendidih. Dia merasa tidak ada orang lain yang lebih berat
siksanya daripada dia. Padahal, sesungguhnya siksa yang ia terima adalah yang
paling ringan di dalam neraka.“
Dia berusaha sekuat tenaga untuk
beribadah kepada Allah, mencari ridha Allah, agar termasuk hamba hamba-Nya yang
terhindar dari siksa neraka dan memperoleh kemenangan surga.
Akhirnya, dia bisa merasakan betapa
nikmatnya shalat tahajud. Betapa agung keutamaan shalat tahajud. Tidak ada yang
lebih indah dari saat-saat ia sujud dan menangis kepada Allah pada malam hari.
3). KISAH RAJA SEHARI
Pernah hidup seorang Raja tua yang sangat
bijaksana, memerintah sebuah negeri yang aman tenteram dan makmur sentosa.
Suatu malam, Raja tua dan pembantunya berkeliling kota dan menemukan sebuah
gubug yang kumuh.
Raja tua mengendap mendekati gubug itu
dan mencuri dengar. Rupanya gubug itu dihuni oleh seorang janda miskin beranak
satu. Sang anak menangis kelaparan,sementara sang Ibu sibuk menghibur si anak.
“Sabarlah nak. Ibu akan menghadap Raja besok. Ibu dengar dia Raja yang murah
hati. Dia pasti akan memberikan makanan bagi kita”.
Raja tua terenyuh hatinya dan memanggil
sang pembantu, “Jika mereka sudah tidur, ambil anaknya dan letakkan di tempat
tidurku. Besok, aku ingin dia menjadi Raja selama satu hari. Sehingga saat
Ibunya datang menghadap, dia bisa memberikan sebanyak apapun harta kekayaan
istanaku kepada ibunya.”
Si anak bangun tidur di kamar Raja yang
mewah. Para pelayan istana memberikan penghormatan kepada si anak, selayaknya
seorang Raja. Mereka melayani dia dari keperluan mandi hingga sarapan. Dari
pagi hingga siang, si anak bermain-main dengan para Pangeran dan Putri istana.
Semuanya menghormati dia selayaknya seorang Raja. Si anak mulai berpikir bahwa
dia akan seterusnya tinggal di istana sebagai seorang Raja. Dia mulai menikmati
segala kemewahan disekelilingnya.
Tiba saatnya Raja duduk di ruang sidang,
memutuskan masalah rakyat. Disamping singgasana Raja, duduk Penasihat Agung
Kerajaan, yang tiada lain adalah Raja tua yang asli. Satu demi satu Raja
memutuskan urusan rakyat dengan bijaksana, atas saran bijak Penasihat Agung.
Hingga tiba giliran sang Ibu yang miskin untuk menghadap. Malu, sang Ibu hanya
tertunduk, tidak berani memandang Raja. Tapi Raja dapat mengenali Ibunya. Usai
mendengarkan penuturan ibunya, Raja memerintahkan untuk memberikan dua karung
gandum dan sepuluh keping uang emas kepada ibunya. Penasihat Agung dan pembesar
lainnya terkejut.
“Yang Mulia,” tegur Penasihat Agung.
“Kekayaan istana ini sungguh tidak terbatas. Kita bisa memberikan lebih banyak
lagi.”
“Yang Mulia,” Menteri Pangan bangkit dari
kursinya. “Menurut perhitungan hamba, jika Tuanku menyerahkan 1000 lumbung padi
sekalipun, negara masih memiliki kelimpahan yang tidak terbatas. Saran hamba,
berikanlah lebih dari itu.”
“Tuanku,” Bendahara Negeri ikut
menimpali. “Menurut hitungan hamba, jika Tuanku mengeluarkan seluruh persediaan
emas negara untuk Ibu ini, negara masih tetap kaya karena bulan depan kita akan
memperoleh pendapatan emas dua kali lipat dari hari ini. Saran hamba,
berikanlah lebih dari itu.”
Demikianlah, Penasihat Agung dan satu
demi satu pembesar kerajaan mencoba membujuk Raja untuk memberikan lebih kepada
Ibunya. Tetapi Raja tidak perduli. Dia bahkan marah dengan usulan-usulan yang
dianggap mempertanyakan otoritasnya itu. Sang Ibu yang miskin akhirnya pulang
dengan dua karung gandum dan sepuluh keping uang emas.
Ketika matahari tenggelam, si anak tertidur
kelelahan. Raja tua berkata kepada pembantunya, “Aku telah menggenapi janjiku
untuknya. Kembalikan lagi dia ke rumah Ibunya.” Sang anak terbangun kembali di
gubugnya. Dia pikir dia baru bermimpi. Namun dia terkejut mendengar cerita
Ibunya. Si anak segera menyadari kesalahannya, dan berlari ke istana menemui
Raja tua.
“Yang Mulia, ampuni hamba. Hamba kini
menyadari maksud Baginda. Hamba mohon, kembalikan hamba menjadi Raja, agar
hamba bisa memberikan lebih kepada Ibu hamba.”
“Tidak bisa,” kata Raja.
“Satu menit saja, Yang Mulia. Sekedar
memerintahkan untuk memberikan lebih kepada ibunda hamba.”
“Anakku,” kata Raja. “Waktumu telah
berlalu. Apa yang telah engkau berikan untuk ibumu, itulah yang akan engkau
nikmati.”
” Dan berikanlah peringatan kepada
manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka
berkatalah orang-orang yang zalim: “Ya Rabb kami, beri tangguhlah kami
(kembalikan kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan
mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul” .(Kepada mereka
dikatakan): “Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali
kamu tidak akan binasa?” (Al- Quran S. 14:44)
Semoga kita semua tidak tertipu seperti
anak itu, yang mengira dia akan menjadi Khalifah / Raja selamanya di atas
dunia.
4). KOMITMEN NIKAHAN DALAM PERSPEKTIF
ISLAM
Dilihat dari usianya beliau sudah tidak
muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58
tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga
sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun
Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah
awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya
lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terj adi selama 2 tahun, menginjak tahun
ke tiga seluruh tubuhnya menj adi lemah bahkan terasa tidak bertulang
lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.
Setiap hari pak suyatno memandikan,
membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur.
Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak
merasa kesepian.
Walau istrinya tidak dapat bicara tapi
dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak
begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi
istrinya makan siang. sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian
dan selepas maghrib dia temani istrinya
nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian.
Walaupun istrinya hanya bisa memandang
tapi tidak bisa menanggapi, pak suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu
menggoda istrinya setiap berangkat tidur.
Rutinitas ini dilakukan pak suyatno lebih
kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke
empat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg
masih kuliah.
Pada suatu hari ke empat anak suyatno
berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak
mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan pak suyatno memutuskan
bahwa istrinya dialah yg merawat, yang dia inginkan hanya satu, yaitu semua anaknya berhasil.
Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg
sulung berkata ” Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat
bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak...bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu” .. dengan air mata berlinang
anak itu melanjutkan kata2nya “sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak
menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan
berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan
merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”.
Pak suyatno menjawab hal yg sama sekali
tidak diduga anak2 mereka.
“Anak2ku … Jikalau perkawinan &
hidup didunia ini hanya untuk nafsu,
mungkin bapak akan menikah..lagi, tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian
disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian.. (sejenak
kerongkongannya tersekat),.. . kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini
dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menggantimya dengan apapun.
Coba
kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini. Kalian
menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu
dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan agar bapak yg masih diberi Tuhan
kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yg masih sakit.”
Sejenak meledaklah tangis anak2 pak
suyatno, merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata ibu suyatno..dengan
pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu..
Sampailah akhirnya pak suyatno diundang
oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun
mengajukan pertanyaan kepada pak suyatno kenapa mampu bertahan selama 25
tahun merawat Istrinya yg sudah tidak
bisa apa2..disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio
kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru. Disitulah pak Suyatno bercerita.
“Jika manusia didunia ini mengagungkan
sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu,
tenaga, pikiran, perhatian) maka itu adalah kesia-siaan. Cinta itu adalah
memberi.
Saya percaya Tuhan-lah yang memilihkan
istri saya ini menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun
dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan hanya
dengan mata, dan dia memberi pada saya 4 orang anak yg lucu2.. Sekarang dia
sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama..dan itu merupakan ujian bagi
saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya,
termasuk dikala sehat maupun sakit. Ketika dia sehatpun belum tentu saya
mencari penggantinya apalagi dia sakit,,,”
Rayap adalah
serangga kecil yang menyerupai semut. Mereka hidup berkoloni dan membangun
sarang raksasa untuk diri mereka sendiri. Satuan terkecil pembangun sarang
tersebut adalah bata-bata mungil yang terbuat dari tanah, yang dibuat
rayap-rayap pekerja dengan mencampurkan air liur mereka sebagai bahan perekat.
Ukuran sarang rayap kadang dapat mencapai tiga sampai empat meter. Arsitektur
sarang yang menyerupai bangunan pancakar langit raksasa bila dibandingkan dengan
ukuran tubuh rayap itu sendiri, sungguh sangat menakjubkan.
“Sesungguhnya
orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka
menegakkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan
mengatakan): “Janganlah kamu takut dan janganlah kamu merasa sedih.” (QS.
Fushshilat 30).
Meneguhkan
pendirian setelah iman tertanam dalam dada adalah sangat penting. Hal itu untuk
melindungi hati dan jiwa dari setiap godaan yang selalu datang menyerang
kapan saja. Maka dalam segala hal kita tidak lupa berdoa. “Wahai yang
membolak-balik hati, tetapkan lah hati hamba dalam agama dan ketaatan
kepada-Mu.”
Teguh pendirian
berarti kontinyu dan konsekuen dalam segala hal, perkataan dan perbuatan. Teguh
pendirian berarti selalu berjuang dijalan Allah memelihara keimanan yang
tertanam dalam hati kita. Tanpa itu, sulit rasanya kita dapat memelihara
keimanan dan ketakwaan yang sudah terpatri. Tanpa keteguhan hati mustahil
rasanya kita dapat mempertahankan iman dari segala gangguan yang ada.
Keteguhan
hatilah yang menggugah manusia untuk selalu berbuat amar ma’ruf nahi munkar.
Pada akhirnya keteguhan hati akan muncul setiap kita berbuat dan bersikap.
Sebab keteguhan itulahkita selalu mau dan semangat untuk berkerja, belajar dan
melakukan aktivitas dalam kehdupan sehari-hari.
Kita dapat
belajar dengan baik mengukir prestasi dan cita-cita setinggi langit setelah
kita yakin dan meneguhkan hati akan cita-cita kita tersebut. Maka, kontinuitas
dalam belajar akan tercipta dengan baik tanpa ada paksaan. Kita pun tak perlu
takut dan sedih akan rintangan dan halangan yang menghambat setiap jalan kita. Semua
tersa mudah dan dapat dihalau dengan keyakinan penuh. Itulah yang dilakukan
oleh para generasi pertama umat Islam. Mereka meneguhkan hati dengan keimanan
dan ketakwaan kepada jalan Allah untuk selanjutnya berjuang menegakkan
panji-panji-Nya di dunia ini. Semoga keteguhan hati selalu menghiasi hidup
kita. Amin
Tjoet Nja' Dien “Wanita Besi” Menaklukkan Belanda by: Dekky Yulisman
Tanggal 26
maret 1873, sebuah kapal induk Citadel van Antwerpen milik belanda merapat di
perairan antara pulau Sabang dan perairan Aceh. Rakyat Aceh mencium niat busuk
dari kehadiran kapal itu. Penampilan kapal itu bernuansa angkuh, dan
seakan-akan menyuarakan terompet perang. Hal itu dapat dilihat oleh rakyat Aceh
dari sorot mata yang tak bersahabat.
Pemikiran
rakyat Aceh tak meleset. Tak lama setelah merapat, wakil presiden Hindia
belanda, FN. Neuwenhuijzen menabuh genderang perang. Ia memberi komando kepada
para prajuritnya untuk menaklukkan Serambi Mekkah, yang ketika itu dikuasai
oleh kerajaan Aceh. Neuwenhuijzen turun dari kapal kolonial itu diikuti oleh
pasukannya untuk memulai penindasan dan penjajahan di bumi Aceh dengan sikap
pongah. Kehadiran Belanda tersebut digambarkan untuk membentuk pemerintahan
yang tidak legitimate secara agama, budaya, dan administrasi.
Tapi, rakyat
Aceh yang dianggapnya lugu dan tak kuat ternyata tak mudah ditaklukkan. Selama
80 tahun, penjajahan Belanda tak dapat memetik kemenangan. Selalu saja muncul
para pahlawan yang gagah berani tampil melawan kebingisan dan kepongahan
kompeni Belanda. Dan Belanda pun tak pernah memperoleh kemenangan.
Salah satu
pahlawan yang tampil melawan kebengisan Belanda adalah seorang wanita
pemberani. Dialah Tjoet Nja' Dien. Wanita yang dijuluki ”wanita besi” sejak
kecil terlibat langsung atau tidak langsung dalam kancah perang. Dia berjuang
dengan modal psikologis rakyat Aceh menganggap belanda sebagai ureung kaphe
(orang kafir). Dengan modal itulah ia berjuang untuk melawan Belanda.
Setelah
mendapatkan Ibrahim Lamnga sebagai suami, ia bahu-membahu bersamanya berjuang.
Namun tak lama bertempur, Ibrahim Lamnga tewas dalam sebuah pertempuran. Sedangkan
Tjoet Nja' Dien lolos dari maut. Ia berhasil diungsikan ke Monasi, daerah
kekuasaan panglima Polim. Di Monasi, Tjoet Nja' Dien memulihkan kekuatan
pasukannya. Di sini pula ia bertemu Teuku Umar dan menikah dengannya.
Selanjutnya,
untuk menyiasati perjuangan, maka Teuku Umar menyusup kedalam pasukan Belanda
sampai ia dipercayai menjadi panglima perang. Dalam posisi di kubu Belanda,
Teuku Umar harus terpaksa tampil melawan pasukan Aceh. Namun di balik itu
semua, ia melemahkan kekuatan Belanda dengan menguras persenjataannya. Maka
dikemudian hari Belanda mengalami serangan balik.
Dalam perang
gerilya yang sangat panjang tersebut, kembali Tjoet Nja' Dien kehilangan
suaminya. Namun semangat yang tak pernah kendur terus terpelihara sampai usia
memakan kesehatan fisiknya. Akhirnya, kegesitan yang ia miliki berkurang
seiring matanya yang rabun.
Saat keadaan
fisiknya lemah itulah, seorang pembantu setianya Pang Lot diam-diam melaporkan
kepada Belanda tempat persembunyian Tjoet Nja' Dien. Namun, Pang Lot mengajukan
syarat agar Belanda menghormati pahlawan wanita itu dan memberikan pengobatan
terhadap penyakitnya. Belanda setuju, namun Tjoet Nja' Dien hampir saja
melakukan bunuh diri karena tidak mau menerima penghormatan dari penjajah.
Setelah
ditemukan, Tjoet Nja' Dien dikirim ke Kutaraja (kini Banda Aceh) lalu diobati
seperti persetujuan Belanda kepada Pang Lot. Kendati demikian, Belanda masih
ketakutan dengan Tjoet Nja' Dien. Maka, mereka mengirimnya ke Sumedang, Jawa
Barat. Di tempat itu pula Tjoet Nja' Dien menemui ajalnya pada tahun 1908 tepat
ketika Budi Oetomo muncul sebagai organisasi nasional pertama.
Kemerdekaan Republik Indonesia adalah tonggak sejarah terbesar bagi seluruh bangsa Indonesia yang selama tiga setengah abad terbelenggu dengan ketidak bebasan dalam segala hal. Kemerdekaan yang ditandai dengan proklamasi 17 Agustus 1945 tersebut sungguh merupakan prestasi terbesar sepanjang sejarah anak bangsa. Ketika itulah, seluruh komponen bangsa, dari berbagai agama, suku, ras dan golongan bersartu padu dan bertekat membangun Republik tercinta ini.
Sejarah mencatat, seluruh bangsa Indonesia baik di sumatra, Jawa, Bali, Sulawesi, dan Irian Jaya terus berjuang melawan penindasan kompeni Belanda. Mereka punya satu tujuan; mencapai Indonesia merdeka terbebas dari penjajah. Maka, tidak ada alasan untuk tidak mempersatukan daerah dari Sabang sampai Merauke dalam sebuah institus negara Republik Indonesia.
sudah begitu lama kemerdekaan Indonesia itu dicapai. Suatu waktu yang cukup bagi sebuah bangsa untuk berdiri tegak menatap masa depan dan siap bersaing dengan negara lain secara sehat. lebih dari setengah abat merupakan usia yang sudah cukup bagi sebuah bangsa untuk menikmati keadilan dan kemakmuran yang merata bagi seluruh rakyat. Tapi apa yang terjadi sangatlah kontras. Setelah beberapa tahun merdeka, bukan kemerdekaan yang dirasakan, bukan kebebasan yang didambakan tercapai, bahkan bukan kemandirian menjadi sebuah bangsa tanpa campur tangan asing yang diraih.
Wajah Indonesia
saat ini sangatlah jauh dari harapan para pahlawan yang telah berkorban untuk
bangsa ini. Korban dengan darah dan air mata yang tak terhitung seakan tak ada artinya
jika melihat Indonesia saat ini. Jika saja panglima Soedirman masih hidup, ia
akan menyesal berjuang sampai harus ditandu, ia akan menyesal melakukan perang
gerilya dalam keadaan sakit, ia akan menyesal pula telah mempercayai anak cucu
bangsa Indonesia untuk memegang amanah kemerdekaan yang diembannya. Betapa
tidak, ternyata anak cucu bangsa ini tidak becus mengatur negara. Semua
kalangan sudah terjangkit penyakit korupsi, kolusi dan nepotisme yang sangat
kronis tak terkecuali wakil-wakil rakyat yang terhormat dan mempunyai
kehormatan yang duduk di DPR ataupun DPRD.
Ironis memang,
semua orang pintar berebut posisi, semua elit politik berebut kursi untuk
mengamankan posisinya. Maka yang terjadi adalah tarik menarik kursi, bukan
semangat untuk membangun bangsa ini. Semua partai berebut pengaruh dan simpati
dari masyarakat, entah itu partai besar ataupun partai samar-samar yang baru
berdiri. Mereka sangat yakin dengan kemenangan yang diraihnya. Maka, menurut
mereka, setelah mereka menang, Indonesia akan segera berubah. Untuk itulah
janji dan ide serta gagasan dilontarkan secara gencar yang membabi buta.
Pada fase
berikutnya, semua partai politik selalu berpikir politik dan politik. Tak ada
hari tanpa politik. Jika sudah demikian, hanya ada satu pemikiran yang muncul,
bahwa kepentingan abadi yang harus diutamakan. Kepentingan partai dan golonganlah
yang harus diperjuangkan walau ia harus menjadi penjilat ataupun pecundang bagi
yang lain. Bagai mana bisa memenangkan Pemilu, bagai mana caranya jumlah kursi
di badan legislatif meningkat, bagai mana dan bagai mana selalu muncul hanya untuk satu tujuan
memperjuangkan kepentingan partai.
Sementara para
elit politik sibuk dengan program pemenangan pemilu, rakyat kecil sedang sibuk
menghadapi kekurangan air. Seakan musibah tak mau lari dari mereka, setelah
didera dengan harga gabah dan beras yang murah, kini kekeringan siap menghadang
semua usaha mereka. Hanya tarikan nafas yang bisa menggambarkan betapa
kesulitan hidup telah membelenggu mereka. Ternyata modal puluh-puluh tahun lalu
tak cukup untuk membuat rakyat kecil bahagia dan juga tak cukup bagi mereka
untuk merasakan “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.
Penderitaan
yang menyerang mereka tidak saja datang dari alam, tapi juga dari saudara
mereka. Lihatlah betapa biaya pendidikan semakin mahal. Hal itu merupakan
konsekuensi yang dicapai saat keputusan tentang otonomi pendidikan dikeluarkan.
Di satu sisi otonomi itu baik adanya untuk meningkatkan kemandirian tiap-tiap
sekolah. Namun disisi lain, hal itu menimbulkan kekhawatiran munculnya korupsi
gaya baru di lingkungan akademis. Kekhawatiran itu tak berlebihan, mengingat
korupsi bukan lagi sebagai penyakit, namun sudah menjadi wabah yang merata dan
melanda seluruh awak negeri ini. Dengan otonomi yang diterapkan di seluruh
daerah, terjadi pulalah otonomisasi korupsi dan kolusi.
Hal itu di
buktikan dengan semakin maraknya hobi korupsi di kalangan elit politik. Bahkan,
wakil-wakil rakyat di daerah-daerah juga menyambut reformasi sekaligus otonomi
dengan beramai-ramai korupsi. Lihatlah korupsi yang dilakukan dahulu oleh
Muhammad Basuki dan Ali Burhan. Ketua dan wakil DPRD Surabaya ini mengajukan
pencairan dana atas pos-pos jatah eksekutif. Dengan kuitansi yang fiktif,
sebagai dana tersebut meluncur deras ke kantong keduanya, jumlahnya mencapai Rp
22,5 milyar, sebuah jumlah yang fantastis untuk ukuran DPRD tingkat II.
Namun hal itu
tak seberapa, dibandingkan apa yang dilakukan oleh Huzrin Hood, bupati
Kepulauan Riau (Kepri). Setelah beres mengutak-atik APBD, ia berhasil meraih Rp
87,2 milyar. Lain lagi yang dilakukan oleh DPRD Sumatra Barat. Mereka
beramai-ramai menggelembungkan APBD demi mendapat tambahan gaji. Hasilnya,
negara dirugikan sekitar Rp 5 milyar. Nampaknya, korupsi sudah menjadi budaya
di negeri zamrud khatulistiwa ini. Kini, korupsi tak usah dilakukan
sembunyi-sembunyi. Kini, semua pejabat dari pusat sampai daerah tak segan-segan
untuk menggelapkan uang rakyat.